Sasi, Kearifan Lokal Menjaga Alam Papua Barat Daya

Sasi, Kearifan Lokal Menjaga Alam Papua Barat Daya

WAISAI, LELEMUKU.COM – Sasi merupakan praktik adat yang dapat ditemukan di Maluku dan Papua, termasuk di Provinsi Papua Barat Daya. Sasi adalah larangan untuk mengambil hasil alam di suatu tempat dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu tahun, sebagai bentuk pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Beberapa daerah di Papua Barat Daya yang mempraktikkan sasi antara lain Raja Ampat dan Sorong. Acara buka sasi dan tutup sasi diawali dengan upacara adat dan doa bersama di gereja. Hasil alam yang diatur dengan sasi meliputi teripang, lobster, dan ikan. Ketika waktu sasi berakhir, masyarakat memanen hasil laut secara beramai-ramai untuk dijual.

Masyarakat adat bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan serta organisasi konservasi seperti WWF Indonesia dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara untuk memonitor wilayah sasi. Kerja sama ini menentukan kapan waktu buka sasi yang tepat serta hasil sasi yang boleh diambil agar tidak merusak alam. Semua masyarakat boleh mengambil hasil sasi setelah acara buka sasi asalkan mematuhi aturan yang telah disepakati, seperti ukuran minimal yang boleh diambil.

Ritual buka sasi Suku Moi di Kampung Malaumkarta, Sorong, menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat bersinergi dengan ilmu pengetahuan modern dalam menjaga kelestarian alam. Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya terus mendukung praktik sasi sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. (Evu)